Tawas Penjernih Air Berdampak Negatif

Tawas sudah lama digunakan dalam pengolahan dan penjernihan air PDAM.

 

Nyaris semua teknologi pengolahan air minum menggunakan tawas dan variannya untuk menjernihkan air sungai. Selain karena harganya yang relatif murah, juga karena mudah diperoleh di pasar/toko. Tawas adalah nama pasar untuk aluminum sulfat dan sudah lama diterapkan dalam pengolahan air di PDAM. Akibatnya, tawas pun menjadi salah satu zat penambah konsentrasi aluminum dalam air minum yang dapat berdampak negatif pada kesehatan.

Namun demikian, aluminum sesungguhnya terkandung dalam air tanah dan air sungai secara alamiah. Dalam proses pengolahan air atau lebih tepat adalah penjernihan air diperlukan koagulan untuk memisahkan zat padat penyebab kekeruhan seperti koloid dan padatan tersuspensi (suspended solid). Selain itu bisa juga digunakan ferisulfat. Fungsi tawas dan ferisulfat ialah untuk menghilangkan kestabilan koloid atau destabilisasi agar koloid bisa bergabung menjadi besar dan berat, membentuk makroflok sehingga mudah mengendap.

Pada proses ini biasanya dilarutkan juga polimer untuk membantu penggumpalan. Polimer ini mirip tangan-tangan yang menjalar-jalar kian kemari lalu merengkuh banyak koloid dan menggabungkannya dengan yang lain. Dengan proses kimia ini, setelah melewati unit pengendap atau sedimentasi, air baku yang keruh sudah lumayan jernih. Tinggal disaring lagi di unit filter. Namun demikian, dan ini persoalannya, air yang dihasilkannya kaya aluminum. Apalagi tawas bisa mengandung krom dan merkuri yang berasal dari bahan bakunya, bauksit. Keduanya termasuk zat berbahaya-beracun.

Sumber lainnya adalah alat pemanas air seperti panci dan teko. Bisa disebutkan, setiap keluarga memiliki alat ini. Aluminum dalam air minum bisa tinggi konsentrasinya karena kita menggunakan panci aluminum. Apalagi kalau airnya asam atau merebus masakan berasam (pH-nya rendah). Aluminum yang tinggi konsentrasinya dalam air minum dapat menimbulkan problem kesehatan seperti indikasi penyakit alzhemir, alzheimer (pikun, ketuaan).

Karena itulah banyak yang lantas menggantinya dengan ferisulfat atau garam besi sebagai koagulan. Secara ekonomis, senyawa ini lebih mahal daripada tawas. Namun bukan berarti masalahnya kemudian lenyap seketika. Sebab, besi pun berefek samping. Walaupun kita perlu zat besi tetapi kalau kelebihan tentu tidak baik bagi kesehatan. Begini salah, begitu salah? Terus, bagaimana jalan keluarnya?

Nah, yang perlu dicari adalah cara agar dosisnya tepat dan airnya jernih agar tidak berbahaya bagi manusia dan hewan ternak. Inilah kewajiban PDAM untuk mencarikan dosis optimumnya agar pelanggan setianya tidak sampai sakit ginjal akibat aluminum dan harus rutin cuci darah (hemodialisis). Dalam jangka panjang dapat meningkatkan efisiensi dana dan tenaga kerja. Produktivitas pun lantas meningkat.

Berikut ini disajikan karakteristik tawas dan PAC.

Polyaluminum Chloride (PAC)
Polialuminum klorida termasuk koagulan kompleks berbasis alumunum klorida dengan rumus molekul:
[Al2 ( OH )mCl 6-n ]m

Keunggulan PAC:
- mudah digunakan dan ditangani
- floknya lebih besar dan berat daripada aluminum sulfat.
- lumpurnya relatif sedikit dibandingkan dengan koagulan lain.
- rentang pH-nya antara 6.0 – 9.0
- karena berat, waktu endapnya lebih singkat daripada tawas


Karakteristik
PAC
Tawas
Rumus molekul
(Al2(OH)m(Cl6-n)5
Al2(SO4)3.nH2O
Bentuk
serbuk, cair
serbuk, cair
Harga
Lebih mahal
murah
Sumber air
air sungai
air sungai
Rentang pH
6.0 – 9.0
5.0 – 7.0
 


Sumber: http://gedehacewater.blogspot.com/2012/08/tawas-si-penjernih-air-minum.html


Bagikan artikel ini ke teman-temanmu, klik share >>